Mengungkap Rahasia Di Balik Kematian

Oleh : Dewanto Putra Fajar

12-Okt-2008, 10:35:18 WIB – [http://www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Kematian merupakan kata yang paling dikenal oleh semua peradaban, mulai Sumeria, Babylon, Mesir hingga peradaban modern. Selama lebih dari 5000 tahun hampir tidak ada seseorang yang mampu menjelaskan apa itu kematian, mengapa kematian terjadi, bagaimana kematian itu berlangsung. Selama ini kita hanya menelan mentah-mentah pernyataan bahwa kematian hanyalah proses ke kehidupan yang lain. Apabila demikian, maka pengetahuan kita tentang kematian tidak akan mengalami perkembangan.

Bagi banyak peradaban kuno, kematian selalu dianggap sebagai ketakutan terbesar manusia. Tidak sedikit penguasa yang ingin sekali menghindari kematiannya. Firaun Ramses II, yang sempat menganggap dirinya adalah dewa, pernah melakukan ekspedisi untuk mencari ramuan kehidupan abadi. Shin Si Huang, kaisar pertama Cina, juga pernah mengerahkan kekuatan militer ke seluruh dunia demi mendapatkan ramuan kehidupan abadi.

Sayangnya, sebelum mereka berhasil mendapatkannya, kematian telah menjemput para penguasa tersebut. Karena konsep tentang kematian begitu terkenal di seluruh dunia, banyak peradaban purba memiliki dewa-dewa yang dihubungkan dengan kematian seperti: Anubis dari peradaban Mesir; Celeste dari peradaban Yunani; Kali dari peradaban Hindu bahkan setiap peradaban yang berbeda memiliki nama dewa kematian yang berbeda pula.

Selama paruh terakhir abad dua puluh hingga awal abad dua puluh satu, pengetahuan tentang kematian dan penyebabnya telah banyak berkembang ketimbang ribuan tahun silam. Penyebab sebuah kematian sangatlah kompleks sehingga tidak bisa dijelaskan hanya dari satu sisi. Karena itu ada beragam penjelasan yang dapat menerangkan penyebab kematian seseorang, mulai dari fisik hingga biologis.

Mari kita singkirkan penyebab kematian akibat kecelakaan fisik untuk melihat lebih jauh penyebab kematian dari sisi yang paling mendasar yaitu sisi neurologi dan genetika manusia. Oleh karena itu, para ilmuwan dari disiplin ilmu genetika dan neurologi berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan secara detail tentang terjadinya sebuah kematian. Kini, setelah ilmu pengetahuan berhasil menemukan beragam penjelasan ilmiah terhadap suatu fenomena, penjelasan ilmiah tentang kematian menjadi sebuah tantangan yang membuat para ilmuwan penasaran. Karena itu, para ilmuwan berusaha menjadikan kematian sebagai sebuah fenomena ilmiah.

Penjelasan pertama tentang penyebab kematian datang dari disiplin ilmu genetika. Proyek pemetaan genom manusia (Human Genome Project atau HGP) yang dimulai pada tahun 1990 akhirnya berhasil memetakan seluruh struktur genetik manusia, pada tahun 2003, dengan semua implikasinya (wikipedia). Proyek tersebut telah berhasil memberikan jawaban tentang beragam masalah genetika manusia.

HGP juga menawarkan sebuah cara pandang yang baru untuk memahami semua aspek biologis dan genetika manusia, termasuk di dalamnya sedikit penjelasan tentang penyebab kematian.. Keberhasilan HGP mengungkap rahasia tentang gen rupanya berhasil mengubah cara pandang kita terhadap kematian.

Berdasarkan penemuan dari HGP, Matt Ridley, penulis berkebangsaan Inggris, berhasil menjelaskan secara gamblang tentang gen-gen penyebab kematian tersebut. Ridley menjelaskan bahwa salah satu penyebab kematian disebabkan oleh kelemahan Asam Deoxiribonulkeat (Deoxirybonucleic Acid atau DNA)—DNA sebagai materi genetik dapat mereplikasi dirinya sendiri secara otomatis ketika melakukan replikasi.

DNA rupanya hanya bisa memulai replikasi setelah beberapa baris dari awal rantai DNA tersebut, sehingga bagian awal rantai DNA cenderung tidak tereplikasi. Karena kelemahan tersebut, ada beberapa bagian rantai DNA yang bertugas melindungi rantai DNA secara keseluruhuan. DNA pelindung tersebut biasanya disebut dengan telomer.

Semakin sering DNA mengalami replikasi maka panjang telomer akan semakin berkurang, hingga akhirnya habis. Apabila telomer semakin pendek maka dapat disimpulkan bahwa tubuh kita akan menjadi tua (Matt Ridley, 2005). Jika rantai telomer telah habis maka dapat dipastikan bahwa kematian telah menghampiri kita. Hal itu memberikan penjelasan mengapa semakin lama tubuh kita akan semakin lemah dan akhirnya mati termakan usia. Dari sini kita paham bahwa umur kita turut ditentukan oleh panjang rantai telomer yang terdapat dalam gen.

Sebagaimana yang kita ketahui dari penjelasan guru agama, bahwa pada saat lahir panjang umur kita telah ditetukan oleh Tuhan. Rupanya penjelasan itu dapat dibenarkan secara ilmiah, sebab kini kita tahu bahwa telomer merupakan gen yang secara langsung ikut menentukan panjang atau pendeknya umur kita. Secara kasar, semakin panjang rantai telomer maka akan semakin panjang pula umur kita.

Sehingga keberadaan rantai telomer lebih mirip pengatur waktu, dalam sebuah bom, yang berhenti bedetak ketika kita menemui ajal. Anne Claybourne menjelaskan hal yang sama dengan Ridley, bahwa kerusakan rantai telomer saat replikasi membuat sel tidak akan dapat lagi membelah. Kerusakan rantai telomer itulah yang menyebabkan kita menjadi tua (Anne Claybourne, 2005). Penjelasan tentang rantai telomer rupanya membenarkan pernyataan bahwa umur tidak semakin panjang tapi justru semakin berkurang setiap harinya.

Penjelasan lebih lanjut tentang kematian datang dari disiplin ilmu neurologi. Saat ini, para ahli neurologi eksperimental berusaha mengungkapkan dengan detail apa yang dimaksud dengan kesadaran, sebelum memulai menjelaskan penyebab kematian. Apabila kesadaran telah berhasil dijelaskan maka penjelasan tentang kematian bukan lagi masalah yang sulit.

Ahli neurologi eksperimental, seperti Francis Crick, berusaha mempelajari bentuk kesadaran berdasarkan pengetahuan mekanisme fungsi saraf tertentu di dalam otak. Ia menjelaskan bahwa kesadaran berhubungan dengan sekolompok saraf dalam otak yang bekerja secara bersama-sama ketika merespon sebuah rangsangan.

Hal itu menjadi sebuah jawaban paling sederhana yang menjelaskan tentang kesadaran (John Horgan, 2005). Penjelasan tentang kesadaran telah mendorong beberapa ahli untuk menerapkan konsep kesadaran untuk menjelaskan konsep kematian dari sisi neurologis. Sampai saat ini para dokter dan paramedis menganggap bahwa kematian merupakan suatu masa ketika otak berhenti bekerja (Wikipedia).

Selama tubuh kita mengalami fase koma, maka sebenarnya tubuh kita berada dalam kondisi mendekati kematian, karena otak tidak bisa memberikan tanggapan dalam bentuk apapun. Keadaan itu terjadi akibat kesadaran otak yang menurun secara drastis.

Sementara para ahli neurologi eksperimental berusaha menjelaskan kematian berdasarkan sisi kesadaran. Para ahli neurologi praktis, yang kebanyakan terdiri dari pada dokter, berusaha menerapkan pengetahuan mereka tentang saraf dan semua susunannya untuk menjelaskan konsep kematian. Bagi kaum neurologi praktis kematian dapat didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan otak memberikan tanggapan atas rangsangan dari luar.

Hal itu temasuk hilangnya refleks pupil hingga hilangnya kemampuan respirasi spontan (Wikipedia). Para dokter menyebut fenomena tersebut sebagai “kematian otak”. Karena itu, kematian otak merupakan sebuah fenomena yang berhubungan erat dengan kesadaran yang dijelaskan kaum eksperimentalis.

Hilangnya kesadaran dalam otak manusia menjadi sebuah awal dari fenomena lainnya. Berkurangnya kesadaran dalam otak membuat beberapa bagian otak menjadi cenderung lebih aktif, terutama bagian yang mengendalikan memori hingga bagian yang mengendalikan alam bawah sadar. Fenomena aneh tersebut menjadi sebuah perdebatan serius di kalangan ahli neurologi praktis.

Akhirnya para dokter, yang tergabung dalam ahli neurologi praktis, menemukan sebuah fenomena yang erat kaitannya dengan kematian. Mereka menyebut hal itu sebagai pengalaman mendekati kematian (Near Death Experience atau NDE). Para dokter menjelaskan NDE sebagai sebuah reaksi sensoris otak ketika mengalami fase tidur atau koma.

Penelitian awal tentang NDE dimulai, pada tahun 1990-an, oleh Dr Rick Strassman yang menemukan fenomena semacam NDE, ketika ia memberikan sejumlah obat-obatan psychedelic obat-obatan halusinogen bernama Dimethyltriptamine atau DMT pada kelenjar pineal otak.

Tindakan itu menghasilkan sejumlah halusinasi yang mirip fenomena NDE (Wikipedia). Penemuan Dr Strassman membuka sebuah pemahaman bahwa uji coba tersebut rupanya mirip dengan pengalaman tentang NDE yang dirasakan sejumlah pasien koma yang berhasil sembuh. Pada tahun 2006, Kinseher mengembangkan sebuah teori tentang NDE secara lebih jelas. Ia menjelaskan bahwa NDE merupakan sebuah reaksi sistem sensori otonom pada otak.

Hal itu mengakibatkan individu merasakan kemampuan untuk mengulang semua memorinya mulai dari saat pra kelahiran hingga menuju kematian (Wikipedia). Pada akhirnya, semua penjelasan yang diajukan oleh ahli-ahli neurologi membawa kita pada kesipmulan bahwa kematian terjadi setelah otak mencapai masa kemunduran hingga titik kritis.

Penjelasan tentang kesadaran, yang diajukan kaum eksperimentalis dan penemuan fenomena NDE oleh kelompok praktis, akhirnya memberikan sebuah gambaran tentang fenomena menjelang kematian.

Pada saat itu alam bawah sadar mengaktifkan beberapa bagian otak, termasuk sistem sensoris otonom yang menghasilkan efek NDE pada individu. Pada kenyataanya tidak semua pasien koma, yang merasakan NDE, menemui ajal Sayangnya beberapa pasien lainnya tidak seberuntung itu. Kebanyakan pasien yang mengalami fase NDE mengindikasikan bahwa ajalnya akan segera tiba.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh disiplin ilmu genetika dan neurologi. Kita dapat merangkai apa yang menyebabkan kematian; bagaimana peristiwa kematian itu terjadi; dan mengapa hal itu terjadi. Sehingga, secara kronologis peristiwa kematian dapat dijelaskan secara detail.

Rusaknya rantai telomer dalam susunan gen kita mengakibatkan sel-sel dalam tubuh tidak lagi dapat membelah. Keadaan itu mengakibatkan tubuh mengalami fase penuaan hingga kematian. Namun demikian, sebelum fase kematian itu terjadi, kebanyakan orang mengalami fase kemunduran fungsi otak secara keseluruhan hingga titik kritis.

Pada fase inilah kesadaran individu mulai berkurang secara drastis yang ditandai dengan hilangnya reflek pupil hingga hilangnya kemampuan respirasi spontan. Pada saat itu, alam bawah sadar mengaktifkan sistem sensori otonom yang berhubungan dengan kelenjar pineal. Reaksi sistem sensori otonom itu mengakibatkan individu mengalami fase ketika semua memori dalam otaknya kembali ditampilkan.

Keadaan itu membuat individu mangalami tahap NDE—beberapa orang dapat selamat dari tahap NDE. Tetapi, jika semua kemunduran otak itu terus berlanjut, maka dapat dipastikan individu tersebut mengalami kematian otak. Kematian otak akhirnya menjadi penyebab dari kematian tubuh. Dengan kata lain, kematian terjadi karena tubuh kehilangan kekuatan untuk menjalankan semua fungsinya secara total.

Fase kemunduran otak juga bisa terjadi karena banyak faktor yang mengakibatkan koma. Kasus kecelakaan hingga penyakit yang menyebabkan cidera otak dapat dapat menjadi faktor yang mengakibatkan kematian secara langsung, bahkan sebelum rantai telomer habis termakan waktu.

Hal itu membuktikan bahwa rusaknya rantai telomer bukan satu-satunya penyebab sebuah kematian. Dengan demikian ada ratusan hingga ribuan masalah yang dapat menyebabkan kematian individu.

Akhirnya, semua penjelasan lengkap dari sisi genetika hingga neurologis tetap tidak bisa memberikan jawaban pasti tentang kapan kematian itu tiba. Banyak sebab yang dapat mengakibatkan kematian. Rusaknya rantai telomer, kecelakaan, penyakit dan semua hal yang mengakibatkan tubuh kehilangan fungsinya bisa menjadi penyebab kematian.

Ketika ilmu pengetahuan berhasil menjawab apa itu kematian; mengapa kematian terjadi; dan bagaimana kematian berlangsung. Ilmu pengetahuan justru tidak dapat menjawab kapan dan di mana kematian itu akan datang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak kebodohan yang musnah, maka akan semakin banyak pula kebodohan yang muncul di hadapan kita. Seorang dosen saya, dalam bidang teori komunikasi, pernah menjelaskan bahwa ilmu tidak digunakan untuk mencari jawaban dari sebuah fenomena, tapi untuk mendapatkan beragam pertanyaan baru tentang fenomena tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: